Puisi: Pesantren Kita
Cari Berita

Puisi: Pesantren Kita

Minggu, 16 Oktober 2016

PESANTREN KITA (pondok ngunut)

Oleh:
Em Yasin Arif


Masih ingatkah saudaraku?

Di hari pertama kau injak tanah pesantren kita dulu.

Pada segala yang tak terlupakan.

Guratan wajah kiai yang meneduhkan.

Kesabaran guru-guru penuh kesabaran.

Mesjid tempat sujud kita bersama.

Ladung air mata yang kau sembunyikan tatkala merasa tak kerasan.

Lusuh karpet tipis tempat kita tidur, belajar dan bersenda gurau.

Almari kita yang lapuk dimakan asai, reyot, miring, kakinya hilang satu.

Kitaab-kitab yang berserakan.

Pakaian kotor yang berhamburan.

Riuh suara hafalan dari kamar-kamar.

Amuk suara keamanan yang menggelegar.

Gedoran pintu yang mencekam saat subuh menjelang.

Kepul asap sebatang rokok yang kita cumbui bersama.

Secangkir kopi dibelakang kamar dan sepotong senja yang menentramkan.

Cita-cita kita yang kita gantung pada jarring laba-laba di langit-langit kamar.

Dongeng-dongeng sebelum tidur yang tak kunjung usai.

Tingkah polah kelakar tak pernah habis penuh dengan banyolan.

Kamar madi kita padat lalat, anyir dan pesing.

Sabun pipih dan odol kita yang tepos.

Uang kiriman yang genting.

Rantang plastic tempat makanan kita yang polos.

Lauk tahu tempe dan ikan pindang adalah puncak kenikmatan.

Masih ingatkah saudaraku?

Pada runcing mata pena.

Pada keunikan aksara pegon.

Pada kemurnian kitab kuning.

Pada parau suara kita saat tartil Qur’an.

Pada segala yang tak terlupakan..

Pada “Fa’ala Yaf’ulu” pada Shorof; bahwa hidup niscaya melakukan perbuatan.

Pada “Zayd” dalam Nahwu; bahwa hidup harus menambah kebaikan.

Pada “Alif-Lam-Mim” dalam Jalalain ; bahwa hidup adalah misteri tuhan yang harus dilaksanakan.

Ada rona kebahagiaan saat menjelang liburan.

Ada sesak kerinduaan tatkala kita sudah pulang.

Dan kita adalah saudara yang menyatu dalam pelukan tuhan.