Esensi Sungkem Kiai
Cari Berita

Esensi Sungkem Kiai

Minggu, 13 November 2016

Majalah Pondok Ngunut
MajalahMadani.Com - Sungkem kiai, Banyak orang yang salah kaprah dalam mengartikan hakikat ta’dzim atau penghormatan dan hakikat ibadah atau pengabdian. Sehingga mereka mencampur keduanya dan mengatakan bahwa segala bentuk ta’dzim kepada orang lain merupakan bentuk ibadah kepada selain Allah. sehingga, ketika seseorang berdiri, merunduk dan mencium tangan orang yang sholih oleh mereka dianggap sebagai penghambaan pada selain Allah. Sesungguhnya pandangan ini adalah pandangan yang keliru dan terkesan melebih-lebihkan.

Telah kita ketahui bersama bahwasannya Allah SWT pernah memerintahkan para malaikat dan iblis untuk bersujud kepada Nabi Adam AS. Sebagai bentuk penghormatan atas ilmu dan kemuliaan yang ada padanya. Namun, hanya malaikat yang mau bersujud. Sedangkan iblis menolak untuk bersujud kepada Nabi Adam, karena iblis yang tercipta dari api merasa lebih mulia dari Nabi Adam yang tercipta dari tanah. Sikap angkuh iblis tersebut mengakibatkan iblis tertolak dari rahmat Allah SWT.

Zaman Nabi Muhammad SAW para sahabat juga melakukan penghormatan kepada Nabi, di antaranya dengan tidak berjalan mendahului Beliau dan berbicara dengan suara yang lebih pelan dari suara Nabi. Dari keterangan tersebut dapat kita tarik kesimpulan bahwa, para malaikat dan sahabat selalu menghormati makhluk yang dimuliakan oleh Allah SWT. Para ulama’ juga termasuk dalam golongan orang yang dimuliakan oleh Allah SWT. Karena mereka adalah waratsat al Anbiya’, pewaris para Nabi. Seperti yang telah disabdakan oleh Nabi :

أكرموا العلماء, فانهم ورثة الأنبياء, فمن أكرمهم فقد أكرم الله ورسوله. رواه الخاطيب عن جابر

“Muliakanlah para Ulama, karena mereka adalah pewaris para nabi. Barang siapa memuliakan para ulama, maka ini berarti bahwa mereka telah memuliakan Allah dan Rasul-Nya”. (Hadits riwayat Al-Khathib dari Jabir)
Bukan harta benda yang diwariskan oleh para Nabi, melainkan adalah ilmu. Status sebagai pewaris Nabi menjadikan ulama’ berkewajiban mengajarkan ilmu-ilmu Allah kepada para manusia sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi-nabi terdahulu. Maka, sudah sepantasnya kita memberikan penghormatan kepada para ulama’, seperti yang dilakukan oleh para sahabat kepada baginda Nabi Muhammad SAW.

Salah satu bentuk penghormatan yang lazim dijumpai di lingkungan pesantren adalah mencium tangan para kiai, guru dan orang-orang ‘alim. Bagi para santri mencium tangan kiai bukan hanya sebagai bentuk penghormatan semata, namun juga sebagai ajang ngalap barokah. Sehingga tidak heran kalau para santri rela mengantri atau bahkan berebut tempat dengan santri lain saat sang kiai lewat, hanya sekedar untuk bersalaman.

Para santri melakukannya bukan tanpa dalil yang jelas, karena dalam kitab-kitab salafy diterangkan kesunnahan mencium tangan seseorang karena hal-hal yang bersifat diniyyah seperti kealimannya atau kemuliaannya, bukan karena hal-hal yang bersifat duniawi seperti jabatan atau kekayaannya. Karena yang demikian ini dimakruhkan. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi :

من تواضع لغنيّ لغناه ذهب ثلثا دينه 

“Barangsiapa merendahkan hati pada orang kaya karena kekayaannya maka hilanglah dua pertiga (2/3) agamanya”.

Hadits diatas menggambarkan betapa tidak dianjurkannya mencium tangan seseorang hanya karena kekayaan atau pangkat yang dimilikinya, sampai-sampai Nabi memberikan peringatan keras berupa hilangnya 2/3 agama orang tersebut. Dan sebaliknya, mencium tangan seseorang karena kemuliaannya dan mengharap barakah adalah sunnah hukumnya.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Ahmad di bawah ini:

عن ابن جدعان, قال لأنس : امسست النبيّ بيدك ؟ قال : نعم, فقبلها 


“Dari Ibnu Jad’an ia berkata kepada Anas, apakah engkau pernah memegang Nabi dengan tanganmu?. Sahabat Anas berkata : ya, lalu Ibnu Jad’an mencium tangan Anas tersebut”.
Hadits di atas menunjukkan betapa Ibnu Jad’an ingin mendapat barokah dengan mencium tangan sahabat Anas yang pernah digunakan untuk memegang Nabi Muhammad SAW. Sama halnya seorang santri yang ingin mendapat tsawab barakah dari kiai dengan lantaran bersalaman.

Namun sayangnya, di zaman yang serba modern ini terdapat banyak orang yang tidak mengetahui dengan benar esensi mencium tangan seseorang sebagai bentuk penghormatan. Seperti yang sering kita jumpai di media massa, baik cetak maupun elektronik. Saat seorang pengusaha berkunjung ke sebuah sekolah para siswa berebut mencium tangannya seolah ia adalah seorang ‘ulama besar. Yang lebih membuat miris lagi adalah ketika mengetahui bahwa pengusaha tersebut bukanlah orang yang seiman dengan kita. 

Kejadian ini semakin memperjelas fakta, bahwa masyarakat di luar sana masih sangat membutuhkan asupan ilmu agama yang lengkap dan bukan sepotong-sepotong, karena mungkin yang mereka ketahui hanyalah sepotong. Misalnnya, sepengetahuan mereka mencium tangan adalah bentuk penghormatan secara umum, sehingga ia bebas mencium tangan siapa saja yang dianggapnya istimewa. Padahal masih terdapat perincian lagi siapa saja yang disunnahkan untuk disungkem dan siapa saja yang dimakruhkan.

Akhirnya, sebagai penutup dari coretan kecil ini, bolehlah saya menganalogikan prosesi pengalapan barakah ini dengan gelas dan teko. Apabila santri yang berposisi sebagai pengalap berkah kita umpamakan sebagai gelas, sedangkan para kiai sebagai orang yang diharapkan barakahnya diumpamakan sebagai teko, dan barakah diibaratkan sebagai airnya. Maka sudah pasti gelas harus berada ditempat yang lebih rendah daripada teko, agar air di teko dapat dituangkan ke dalam gelas. Karena barakah itu terkonsep seperti air, yakni mengalir dari tempat yang lebih tinggi menuju ke tempat yang lebih rendah. Semoga di zaman modern ini tradisi sungkem para santri terus berlanjut dan terus diyakini nilai sakralnya.

Oleh: Ust. M. Miftakhul Minan
Khodimul Ma'had PPHM Sunan Gunung Jati