Penguatan Nilai dan Karakter Pesantren
Cari Berita

Penguatan Nilai dan Karakter Pesantren

Rabu, 02 November 2016


ruu pesantren
MajalahMadani.Com - Suara penuh keikhlasan itu datang dari seorang kyai. Santri-santri duduk bersila menghadap kyai yang sedang asyik bergelut mengarungi alam pemikiran sang pengarang kitab kuning. Kyai memaknai kalimat per-kalimat dengan teliti dan telaten. Memaknainya pun tak sekedar menterjemahkan belaka. Tetapi sekaligus dibaca kedudukan katanya [tarkib] dalam sebuah kalimat. Santri-santri dengan telaten menuliskan setiap kata yang dibaca kiyainya dengan mangsi tutul.

Pondok pesantren sejak lama dikenal sebagai lembaga pendidikan yang memberikan kontribusi dalam mewujudkan masyarakat yang berakhlaq mulia. Karena di pondok pesantren, pengajaran tentang akhlak mulia dilakukan sejak dini. Sejak seorang mulai masuk menjadi santri di pesantren, sampai lulus dari pesantren, bahkan sampai hidup di tengah-tengah masyarakat dan menjadi pemimpin masyarakatnya, hubungan antara pesantren dengan santri tidak terputus begitu saja.

Pada dasarnya akhlak santri harus memenuhi 3 unsur yaitu:
  1. Syariah Islam
  2. Etika dan nilai-nilai universal,
  3. Etika sosial kemasyarakatan yang sering disebut dengan kearifan lokal (local wisdom).

Perilaku santri harus sesuai dengan syariah Islam. Santri adalah seorang muslim yang memiliki komitmen untuk selalu taat menjalankan perintah agama yang wajib dan menjauhi larangan yang haram.

Setidaknya santri menjalankan secara ketat rukun Islam yang 5 (lima) . Dan menjauhi larangan yang masuk kategori dosa besar seperti membunuh, mencuri, berzina, minum alkohol dan narkoba, dll maupun dosa kecil. Berikut beberapa etika dan nilai universal yang tertanam di pesantren: Kejujuran, Kerja keras, Dermawan, Sederhana, Toleran, Peduli sesama, Suka menolong, dan Disiplin.

Santri salaf umumnya memiliki tatacara perilaku yang lebih santun dibanding santri modern. Terutama dalam berinteraksi dengan kyai, ustadz dan orang tua atau orang yang lebih tua. Cara berinteraksi mereka seperti: mencium tangan saat bersalaman, berdiri hormat saat kyai dan orang tua lewat di depan kita, memakai bahasa kromo apabila berbicara dalam bahasa daerah Jawa atau Madura, dalam posisi agak menundukkan kepala saat berbicara, dan intonasi suara sedang.

Mereka berinteraksi dengan teman sebaya seperti: berbicara dengan wajar, hindari canda atau humor yang menghina dan menyakiti, tidak memakai pakaian atau benda teman tanpa ijin (ghosob), membantu teman yang membutuhkan pertolongan dengan ikhlas, bersikap empati kepada teman yang memiliki kekurangan fisik atau otak dengan tidak menyebutkan kekurangan tersebut baik dengan niat bercanda apalagi untuk menghina, meminta maaf apabila melakukan kesalahan, penuh perhatian saat mendengarkan teman berbicara dengan melihat pada bola mata si pembicara dan tidak mengalihkan pandangan pada obyek lain.

Praktek-praktek kehidupan pesantren di atas yang saat ini marak dibicarakan sebagai pendidikan karakter tidak berangkat dari sesuatu yang kosong, tetapi selalu berangkat dari ajaran-ajaran yang tertulis dalam nash dasar Umat Islam (al Qur’an dan al Hadist), serta dari pendapat para Sahabat Nabi dan ulama’. Sedangkan hadist Nabi yang menjadi dasar pelaksanaan praktek-praktek tersebut antara lain: ”Sesungguhnya aku diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan akhlak” (Al-hadits). Sedangkan akhlak yang dimiliki dan diajarkan oleh Nabi adalah al Qur’an (Khulquhul Qur’an). Jadi pembangunan karakter atau akhlak berdasar pada al Qur’an.

Pesantren telah lama mengembangkan model pendidikan karakter. Pengajaran budaya ikhlas, kesederhanaan, kemandirian, gotong royong, mempertahankan kearifan budaya lokal dan tradisional, ukhuwwah islamiyyah (persaudaraan sesama Muslim), ukhuwwah watoniyyah (persaudaraan kebangsaan), dan ukhuwwah basyariyyah (persaudaraan sesama manusia) mencerminkan semangat pendidikan karakter. 

Pesantren memiliki prinsip selalu mengedepankan budi pekerti tinggi (akhlaqul karimah), berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas, mengajarkan nilai-nilai kebenaran universal berupa tasaamuh (toleransi), tawassuth (moderat), dan tawazun (berimbang). Pesantren juga dikenal sangat ketat dalam mengontrol perilaku santri dan masyarakat agar selalu sesuai dengan nilai-nilai luhur ajaran Islam. Motto yang paling populer yang menjadi dogma kuat santri, “al muhaafazhatu ‘alal qadiimish shalih wal akhdzu bil jadidiel ashlah”, yaitu melestarikan nilai-nilai tradisional yang positif, serta saat bersamaan mengapresiasi inovasi-inovasi baru yang lebih membawa maslahat besar bagi kehidupan masyarakat.

Kecenderungan yang saat ini terjadi di tengah-tengah kehidupan pesantren, bermasyarkat dan berbangsa adalah semakin pudarnya perilaku akhlak mulia dan semakin terkikisnya karakter sebagai bangsa Indonesia. Berbicara santri zaman dahulu, kita akan menemui kata yang mungkin sekarang jarang kita dengar, “Takdzim kepada guru”. Itulah masterpiece santri zaman dahulu. hubungan kyai dengan santri zaman dahulu bukanlah hanya sekedar guru dengan murid yang bertemu bersama dalam sebuah ruangan sempit di sebut kelas. 

Penghormatan santri kepada kyai adalah murni dari keikhlasan santri untuk “ngalap berkah” dari kiyai. Ngalap berkah bukan dimaknai sebagai menyembah kyai, jangan salah artikan. Itu sebagaimana para shahabat yang mereka selalu “ngalap berkah” dari Nabi. Mereka bahkan hampir saling bunuh karena memperebutkan sisa air wudlu Nabi.

Ketika diruntut ke belakang, mengapa santri dahulu begitu hormat kepada kyai?. Menurut pengamatan penulis, karena mereka ingin mendapatkan berkah sesuai teori yang didapatkan dari kitab “Ta’limul muta’allim Thoriqa al-Ta’allum” karya Syekh Az-Zarnuji. Sebagian pesantren untuk pendidikan akhlak seringkali hanya dijadikan sebagai pelengkap sambil lalu saja. Akhirnya, kebanyakan santri zaman sekarang menjadikan ilmu sebagai sesuatu yang wajib dituntaskan begitu saja. Intinya, mereka menguasai ilmu tetapi ilmu itu belum tentu benar-benar mereka amalkan. Apalagi bisa dijadikan sebagai perisai untuk menghindari mereka dari perbuatan negatif. Akan lebih baik jika porsi antara praktik ibadah dan pendidikan akhlak benar-benar seimbang.

Saat ini, pesantren menghadapai tantangan budaya dan zaman yang kuat. Pesantren bisa memfilter budaya dalam konteks menuju terimplementasinya akhlaqul karimah dalam kehidupan sehari-hari. Pesantren akan bisa tetap berfungsi sebagai "fiter budaya" juga, bila di masing-masing pondok pesantren pendidikan akhlaq masih dominan dan dimaksimalkan. Sebab, dengan optimalnya akhlaqul karimah di masing-masing pesantren itulah, pesantren akan tetap mampu untuk berperan aktif dalam “memfilter budaya”, karena dengan adanya akhlaqul karimah itu pula, dari sekian banyak gelombang budaya yang terus kencang mengalir dan membanjiri manusia, tetapi komunitas pesantren (utamanya santri di masing-masing persantren) mudah menerima terhadap hasil "penyaringan budaya” yang dipimpin oleh kyai. 

Kemudian para santri langsung melaksanakan dan mengalirkan budaya baru yang telah "disaring" itu, kepada public (masyarakat) setelah mereka (para santri) kembali ke kampung masing-masing. Namun sebaliknya, bila akhlaqul karimah telah bias di dalam kehidupan pesantren, dan dikalahkan oleh tantangan zaman maka pesantren dalam konteks "makelar budaya" tidak akan begitu banyak berperan, atau bahkan sama sekali tidak akan bisa berperan.(Asd)

Ditulis Oleh: KH. Muh. Fathulloh Syafi'i
Pengasuh Pon. Pes. Panggung Tulungagung
Sekaligus Dosen STAI Diponegoro Kab. Tulungagung