KITAB KUNING MEMASUKI PEMANASAN GLOBAL
Cari Berita

KITAB KUNING MEMASUKI PEMANASAN GLOBAL

Selasa, 02 Januari 2018

pphm ngunut
Madani, Tulungagung, Di negara Indonesia pesantren dan kitab kuning merupakan dua perkara yang tidak terpisahkan antara satu dengan yang lainnya. Sebuah lembaga pengajian islam disebut pesantren hanya apabila disana di kaji karya-karya ulama’  klasik dalam lembaga–lembaga kitab kuning . Sebaliknya apabila seseorang berminat untuk melakukan kajian  kitab kuning , maka tidak ada pilihan  lain baginya kecuali datang dan berguru di pesantren. Kitab kuning sangat boleh  jadi  hanya menumpang nama atau untuk memperebutkan proyek atas nama pesantren .
Kitab-kitab inilah yang kemudian  menjadi pusat curahan  perhatian dan konsentrasi para peserta MQK (Musabaqoh  Qiroatul Kutub)- Senin (17/10) menyambut hari santri yang jatuh 5 hari mendatang. Tak hanya diikuti oleh santri saja, namun  tak  sedikit delegasi dari  madrasah diniyah sekitar Kab.Tulungagung. Kegiatan yang berlangsung senin pagi tersebut diawali dengan opening ceremony bertempat di Aula PCNU Tulungagung.
Waktu berdetik menunjuk  pukul 08.30 dan acara resmi di buka. Dalam event yang terbilang masih perdana ini, panitia acara membagi peserta dalam dua kategori. Karegori remaja dengan batasan  max-umur 15 th yang kali ini akan membacakan kitab Mabadhi Fiqih Juz 1. Selanjutnya kategori dewasa membawakan  kitab Fathul Qorib terkhusus pada bab Thoharoh dan Sholat dengan batasan usia max 25 th.
Tepat pukul 10.00 acara dimulai dimana peserta remaja putri melangsungkan duelnya di Aula PCNU dan dewasa putri di Pondok MIA. Keringat dingin mengucur kala dewan juri memanggil nomer urut peserta. Disamping itu acara berjalan dengan lancar-lancar saja. Sampai akhirnya tiba waktu makan siang, dan perlombaan pun di skors sementara dilanjutkan istirahat sholat dzuhur.
 Pada babak  ke-2, sepertinya langit Tulungagung begitu bersuka cita. Kali ini, perlombaan berlangsung  lebih sengit dari babak  pertama. Terbukti, para peserta terbilang atraktif dalam menunjukkan kemampuan membaca kitab kuning ini dengan gaya masing-masing. ”Qola al mushonnifu rohimahumullohu  ta’ála wanafaáni bihi wabi úlumihi fid daroini...Amiin“,begitu ucap sebagian peserta kala melafalkan doa untuk memulai membaca. Dari PPHM-kita tercinta-sendiri tidak mau  kalah kita melangkah pasti dengan  mengerahkan 4 delegasi dari pasukan Sunan Giri dan 11 orang dari unit.  Semangatnya mereka sampai acuh dengan  nilainya karena terlalu asyik dengan  kitab masing-masing.
”Sudah biasa sebenarnya...biasa bil makna. Gak papa buat pengalaman..hehe”,begitu celetuk salah satu peserta yang di temui usai acara.
Memang,  membaca kitab kuning ini hanya akan kita temui di Pondok pesantren. Kitab-kitab ini menjadi warisan sejarah yang menjadi muara pemikiran, dinamika pengetahuan dan akumulasi kebudayaan Ulama’ Jawa dan pesantren di negeri ini sekaligus berperan aktif menjadi media informasi untuk pegangan santri di zaman  modern ini.
‘’Trik2 cepat membaca kitab kuning dari Mbah Yai Maimun Zubair dari Rembang Jateng hanyalah dengan cara membiasakan diri, Istiqomah.. Terus, setiap fiíl harus tau faílnya. Harus tau mawaqiúl lafdhinya”demikian ujar KH. Munawar Zuhri salah satu dewan  juri di sela-sela acara.
Antusias dari Pemda Tulungagung serta di dukung  PEMPROV  JATIM  kali  ini sangat mendukung untuk menciptakan kader- kader akhlaqul karimah dan termasuk wasiah2  mengamalkan apa yang ada di kitab-kitab klasik tersebut.

Belum lepas disitu, acara ditutup dengan pengumuman peserta yang masuk ke babak final yang di gelar keesokan harinya. Tepat pukul 16.00 acara berakhir dengan sedikit kekecewaan di raut wajah para peserta. Namun meski demikian harapan 1,2 masih terpancar dari sanubari mereka. Karena seperti kata orang bijak “Daun yang jatuh tak pernah membenci angin”,tetap Semangat!!