SETRATEGI MUTAKHIR DENGAN PKPNU
Cari Berita

SETRATEGI MUTAKHIR DENGAN PKPNU

Selasa, 02 Januari 2018

pondok ngunut
Ngunut, Madani (23/11). Perang akidah, polemik tersebutlah yang dewasa ini meresahkan umat Islam di dunia pada umumnya, dan Nusantara khususnya. Umat Islam seperti dihadap-hadapkan dengan berbagai faham keagamaan, yang saling bertolak belakang antara satu faham dengan yang lainnya. Sehingga, disorientasi pemikiran maupun sosial harus diterima sebagai dampak ghozwul fikr itu sendiri.
            Menyikapi hal tersebut, Nahdlatul Ulama’ sebagai ormas islam yang menaungi sebagian besar umat islam Nusantara, mengadakan majelis musyawaroh yang didalamnya membahas konsep-konsep ghozwatul fikr yang tengah melanda umat. Yakni, PKPNU (pendidikan kader penggerak nahdlatul ulama’) yang diselenggarakan oleh PCNU Tulungagung. Selain membahas realita umat beragama, dalam forum ini dibahas pula setrategi dan langkah tepat yang harus ditempuh kader NU demi menyelamatkan akidah Islam ahlussunnah wal jama’ah (Red,Islam Nusantara). Sebab, dalam peperangan aqidah ini kebenaran tanpa setrategi masih memiliki kemungkinan dikalahkan oleh kebathilan yang diiringi setrategi yang matang.

            Ada beberap hal penting yang melatar belakangi acara tersebut. Antara lain, ketertinggalan NU di kaderisasi dengan ormas-ormas lain, dan juga pentingnya bagi kader NU mempunyai kepekaan terhadap setrategi ormas diluar NU yang menyebarkan  faham-faham liberal maupun radikal. Tujuan utama difokuskan kepada pelatihan, pendidikan dan pengolahan kader yang meliputi olah raga, olah rasa, dan olah fikir. Yang pada gilirannya, diharapkan NU memiliki kader yang militan dan faham betul tentang faham ahlussunah wal jama’ah.

            Acara dibuka pada rabu, 22 November 2016 di aula Bir Ali PPHM asrama putri Sunan Pandanaran. Acara tersebut diselenggarakan selama tiga hari berturut-turut, yakni 22-24 November 2016. Ada dua lokasi penyelenggaraan acara, dan peserta dipisahkan berdasarkan kategori masing-masing. Peserta Masyayikh dan para kiyai pengasuh pondok pesantren bertempat di Aula Bir Ali, sedangkan peserta delegasi dari pengurus ranting NU dan majelis wakil cabang nahdlotul ulama (MWCNU) ditempatkan di Aula kantor MWCNU Ngunut. Adapun jumlah keseluruhan peserta mencapai 150 orang peserta mukim. Dengan rincian, 88 masyayikh dan 62 peserta dari PRNU & MWCNU se-kabupaten Tulungagung. Pendanaan dialokasikan dari donatur dan kas pengurus cabang nahdlotul ulama’ (PCNU) kabupaten Tulungagung. “Pun dari para peserta juga membayar kontribusi sebesar seratus ribu rupiah, yang mana mereka akan mendapatkan kaos serta sarung ketika acara telah purna.” Tutur ustadz Muhammad Ansori, selaku lokal panitia pada acara tersebut.

            Pada hari ketiga, agenda penutupan pun dilaksanakan. Dimulai setelah sembahyang maghrib, seluruh peserta telah siap ditempatnya masing-masing untuk menerima materi terakhir dari narasumber. Mereka menerima beberapa ijazah dari pemateri sebagai bekal untuk terjun ke masyarakat. Antara lain, ijazah untuk menundukkan hati orang yang dikehendaki, untuk membantu mengembalikan barang yang hilang, dan lain sebagainya. dan lain sebagainya. Setelah menerima ijazah, adzan isya’ pun berkumandang. Usai sholat isya’ berjamaah, peserta kembali menerima beberapa materi tambahan. Tepat pukul sembilan malam, bupati kabupaten Tulungagung, Bapak Syahri Mulyo SE, M.si tiba dilokasi, disambut hangat oleh kuyaha’ dan peserta PKPNU. Sebalum acara benar-benar purna, dilangsungkan pembai’atan kepada seluruh peserta PKPNU. Mereka berbaris membentuk shof tanpa alas kaki dan kopyah. Suasana sakral dan hening pun meliputi aula An-Nur, dimana pembai’atan dilangsungkan. “Tujuan pembai’atan, diharapkan kader-kader NU ini memiliki sikap yang amanah dan semangat juang tinggi.” Ungkap ustadz Qomaruddin, selaku panitia PKPNU tersebut. Pada kesempatan yang lain, kaum radikalis dan sekutunya bersiap-siap sambil menanti sepak terjang kader nahdlotul ulama’ dalam menyelamatkan dan melestarikan aqidah ahlussunnah wal jama’ah yang diperjuangkan. (Cdq/Nhf/Avd)