Ziarah Kubur
Cari Berita

Ziarah Kubur

Rabu, 03 Januari 2018

APA ITU ZIARAH KUBUR ?
           Terdiri dari dua suku kata, ziarah dan kubur. Ziarah berarti kunjungan ke tempat yang dianggap keramat atau mulia (makam dan sebagainya). Sedangkan kubur berarti lubang dalam tanah tempat menyimpan mayat; liang lahat; tempat pemakaman jenazah;makam.
Ziarah kubur adalah kegiatan mengunjungi makam orang-orang tertentu (orang tua, guru, wali ataupun yang lain) untuk tujuan mendoakan mereka dan mengingatkan diri akan kematian.
Ziarah kubur bukan sesuatu yang asing dalam syariat islam. Nabi Muhammad saw. pernah melakukakannya dan mengajarkan kepada para sahabat tentang bagaimana tatacara berziarah. Diriwayatkan oleh Imam Malik dari ‘Aisyah ra.
اَنَّهُ ﷺ اَخْبَرَهَا اَنَّ جِبْرِيْلَ جَاءَهُ فَقَالَ لَهُ اِنَّ رَبَّكَ يَأْمُرُكَ اَنْ تَأْتِيَ اَهْلَ الْبَقِيْعِ فَتَسْتَغْفِرَ لَهُمْ وَاَنَّهُ ﷺ جَاءَ اَهْلَ الْبَقِيْعِ فَقَالَ وَاَطَالَ الْقِيَامَ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ. وَاَنَّهَا رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ لَهُ: كَيْفَ اَقُولُ لَهُمْ؟ فَقَالَ : قُوْلِي السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ اَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ اْلمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنْكُمْ وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ وَاِنَّا اِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ.
Nabi Muhammad saw. memberitahu ‘Aisyah ra. bahwa Jibril datang dan berkata: “Sesungguhnya Tuhanmu memerintahkan kepadamu untuk mendatangi kuburan baqi’, lalu engkau memintakan ampunan bagi mereka.” dan Nabi Muhammad saw. mendatanginya lalu berdoa dan berdiri lama di sana. Kemudian Nabi Muhammad saw. mengangkat kedua tangannya sebanyak tiga kali. ‘Aisyah ra. bertanya, “Bagaimana kami mendoakan mereka? ” Nabi saw. menjawab, “ Ucapkanlah
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ اَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ اْلمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنْكُمْ وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ وَاِنَّا اِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ.  

juga dalam riwayat imam muslim disebutkan:
اَنَّهُ ﷺ كاَنَ يُعَلِّمُ الصَّحَابَةَ اِذَا خَرَجُوْا اِلَى الْمَقَابِرِ اَنْ يَقُوْلُوْا : اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ اَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ اْلمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَاِنَّا اِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ. اَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ.

dan masih banyak redaksi hadits yang lain tentang ziarah kubur yang pernah dilakukan atau dianjurkan oleh Nabi saw.
            Memang dalam sejarah Islam ziarah kubur pernah dilarang oleh Nabi Muhammad saw. hal tersebut terjadi dalam masa permulaan penyebaran agama islam. Tidak dipungkiri pada masa-masa permulaan islam, akidah dan keyakinan muslimin masih banyak yang terlalu lemah karena masih dekat dengan masa jahiliyyah, sehingga Nabi Muhammad saw khawatir ziarah kubur akan menggoyahkan iman mereka. Namun setelah iman mereka sudah teguh dan hilanglah kekhawatiran Nabi Muhammad saw, barulah beliau memperbolehkan ziarah kubur  bagi para sahabat karena itu bisa mengingatkan akan akhirat. Hal tersebut tertera dengan jelas dalam sebuah hadits:
كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُوْرُوْهَا – فَقَدْ اُذِنَ لِمُحَمَّدٍ فِيْ زِيَارَةِ قَبْرِ اُمِّهِ فَزُوْرُوْهَا فَاِنَّهَا تُذَكِّرُ اْلاَخِرَةَ.  اخرجه مسلم وابو داود والترمذى وابن حبان والحاكم. 
BAGAIMANA HUKUM ZIARAH KUBUR?
            Memandang beberapa hadits yang ada, jelaslah bahwa ziarah kubur itu hukumnya boleh, baik bagi laki-laki maupun perempuan, bahkan ada yang menghukuminya sunnah. Seperti keterangan di dalam Fath al-Mu’in karya Syekh Zainuddin al-Malibary
وَيُنْدَبُ زِيَارَةُ قُبُورٍ لِرَجُلٍ لَا لِأُنْثَى فَتُكْرَهُ لَهَا نَعَمْ يُسَنُّ لَهَا زِيَارَةُ قَبْرِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ بَعْضُهُمْ وَكَذَا سَائِرُ اْلاَنْبِيَاءِ وَاْلعُلَمَاءِ وَالْاَوْلِيَاءِ
“dan disunnahkan ziarah kubur bagi laki-laki, tidak bagi perempuan. maka hal itu makruh baginya. namun begitu tetap disunnahkan bagi perempuan untuk berziarah ke makam Nabi Muhammad saw. Sebagian Ulama berkata: juga disunnahkan ziarah ke makam para Nabi, orang-orang alim dan para wali”

            KH. Ali Ma’shum di dalam karyanya Hujjah Ahlus Sunnah wal Jamaah, menyebutkan:
Bahkan Ziarah kubur itu disunnahkan untuk mengambil pelajaran dan mengingat akhirat, maka hal itu cukup dengan melihat kubur tanpa harus tahu siapa penghuni kubur tersebut, atau untuk semisal mendoakan, maka disunnahkan untuk kuburnya setiap muslim, atau untuk mengambil berkah, maka disunnahkan untuk kuburnya orang-orang yang mulia, karena mereka di alam barzakh tetaplah hidup dan mempunyai keberkahan yang tidak terhitung, atau untuk memenuhi hak seperti menziarahi orang tua, saudara ataupun teman.”
            Adapun tentang peziarah wanita, para ulama berbeda pendapat. Sebagian menghukumi makruh berdasarkan hadits dari Abu Hurairah ra.  yaitu:
أَنَّ رَسُولَ الله ﷺ لَعَنَ زَوَّارَاتِ الْقُبُورِ. رواه احمد وابن ماجه والترميذى
“Sesungguhnya Rasululloh saw. melaknati wanita-wanita yang menziarahi kubur”
Menyikapi hadits dari Abu Hurairoh ra. di atas, sebagian ulama mengatakan bahwa larangan yang ada dalam hadits tersebut sudah dicabut dengan adanya izin dari Nabi saw. untuk melakukan ziarah kubur baik bagi laki-laki ataupun perempuan sebagaimana dalam hadits-hadits pendukungnya.

Sebagian lagi menganggapnya boleh dengan syarat aman dari fitnah berdasarkan hadits dari ‘Aisyah ra. yang berbunyi:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَيْفَ اَقُولُ يَا رَسُولَ الله اِذَا زُرْتُ الْقُبُورَ ؟ قَالَ: قُوْلِي السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ اَهْلَ دِيَارِ الْمُؤْمِنِيْنَ. رواه مسلم.
juga dengan riwayat dari Hakim:
اَنَّ فَاطِمَةَ كَانَتْ تَزُوْرُ قَبْرَ عَمِّهَا حَمْزَةَ كُلَّ جُمْعَةٍ

Dari sini sebenarnya dapat diambil titik temu kedua hadits tersebut, yakni ziarah bagi perempuan tidak diperbolehkan jika bersamaan dengan timbulnya fitnah atau perkara yang diharamkan semisal meratapi dan menangisi mayit dengan berlebihan ataupun sebab lain termasuk menyia-nyiakan hak suami, berhias di area publik, terjadinya ikhthilath dan lainnya. Sehingga ketidak bolehan ziarah bagi mereka bukan karena ziarah itu sendiri, akan tetapi karena faktor yang lain yang bersamaan dengan pelaksanaan ziarah. Nah, jika hal tersebut tidak ada, maka tidaklah mengapa wanita melakukan ziarah kubur karena mereka juga butuh diingatkan tentang kematian dan akhirat sebagaimana laki-laki.

MENGAPA KITA PERLU ZIARAH KUBUR ?
Tentunya yang paling utama adalah ziarah kubur merupakan tuntunan dari Nabi Muhammad saw. Selain itu banyak manfaat di dalamnya, baik yang kembali kepada ahli kubur dengan sampainya pahala bacaan alqur’an kepada mereka maupun yang kembali kepada orang yang berziarah dengan  mengingat kematian yang pasti akan dialaminya.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ  كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ ثُمَّ بَدَا لِى أَلاَ فَزُوْرُوْهَا فَإِنَّهَا تُرِقُّ الْقَلْبَ وَتُدْمِعُ الْعَيْنَ وَتُذَكِّرُ اْلآخِرَةَ فَزُوْرُوْا وَلاَ تَقُوْلُوْا هُجْرًا (أخرجه الحاكم و البيهقى (

"Rasulullah Saw bersabda: (dahulu) saya melarang kalian ziarah kubur, kamudian menjadi jelas bagi saya, maka berziarahlah. Sebab ziarah kubur dapat melunakkan hati, meneteskan air mata, dan mengingatkan akhirat. Berziarahlah dan jangan berkata yang tidak baik (menjerit dan meratapi)" (HR al-Hakim dan  al-Baihaqi)
عَنْ ثَوْبَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنًّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ  قَالَ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا وَاجْعَلُوْا زِيَارَتَكُمْ لَهَا صَلاَةً عَلَيْهِمْ وَاسْتِغْفَارًا لَهُمْ (رواه الطبراني (
"Diriwayatkan dari Tsauban bahwa Rasulullah Saw bersabda: (dahulu) saya melarang kalian ziarah kubur, maka berziarahlah, dan jadikan ziarah kalian sebagai doa dan ampunan bagi mereka" (HR al-Thabrani )
رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ  قَالَ مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا فِى كُلِّ جُمْعَةٍ فَقَرَأَ عِنْدَهُ يس غَفَرَ اللهُ لَهُ بِعَدَدِ كُلِّ حَرْفٍ مِنْهَا (رواه ابن عدى والخليلى وأبو الفتوح عبد الوهاب بن إسماعيل الصيرفى وأبو الشيخ والديلمى وابن النجار والرافعى وأخرجه ابن أبى الدنيا فى مكارم الأخلاق)
"Diriwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: Barangsiapa berziarah ke makam kedua orang tuanya atau salah satunya setiap Jumat kemudian membaca Yasin di dekatnya, maka Allah akan mengampuninya sesuai bilangan huruf dalam Surat tersebut" (HR Ibnu 'Adi, al-Khalili, Abdulwahhab al-Shairafi, Abu al-Syaikh, al-Dailami, Ibnu al-Najjar, al-Rafi'i, juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi al-Dunya dalam Makarim al-Akhlaq )

قُلْتُ: وَالدُّعَاءُ مُسْتَجَابٌ عِنْدَ قُبُوْرِ اْلاَنْبِيَاءِ وَاْلاَوْلِيَاءِ وَفِي سَائِرِ الْبِقَاعِ، لَكِنْ سَبَبُ اْلاِجَابَةِ حُضُوْرُ الدَّاعِي وَخُشُوْعُهُ وَابْتِهَالُهُ، وَبِلاَ رَيْبٍ فِي اْلبُقْعَةِ الْمُبَارَكَةِ وَفِي الْمَسْجِدِ وَفِي السَّحَرِ وَنَحْوِ ذَلِكَ يَتَحَصَّلُ ذَلِكَ لِلدَّاعِي كَثِيْرًا وَكُلُّ مُضْطَرٍّ فَدُعَاؤُهُ مُجَابٌ (سير أعلام النبلاء للذهبي - ج 17 / ص 77)
“Saya (adz-Dzahabi) berkata: Doa akan dikabulkan di dekat makam para Nabi dan wali, juga di beberapa tempat. Namun penyebab terkabulnya doa adalah konsentrasi orang yang berdoa dan kekhusyukannya. Dan tidak diragukan lagi di tempat-tempat yang diberkati, di masjid, saat sahur dan sebagainya. Doa akan lebih banyak didapat oleh pelakunya. Dan setiap orang yang sangat membutuhkan doanya akan terkabul” (al-Hafidz adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala’ 17/77)

KATANYA ZIARAH ITU HARAM
Memang ada sebagian orang yang melarang ziarah kubur, mem-bid’ah-kan, bahkan menggolongkannya musyrik. Ada baiknya mereka menelaah kembali tentang redaksi-redaksi tentang ziarah kubur, barangkali mereka merasa berada di lembah yang berbeda dengan dien al Islam.
Sungguh betapa tidak mengertinya mereka! Bukankah madzahibul arba’ah yang sudah diakui di masanya dengan ulama ‘amilin-nya telah memperbolehkan ziarah kubur? Bukankah pula Nabi Muhammad saw. telah mencontohkan kepada para sahabat dan mengajarkan kepada mereka bagaimana cara berziarah? Bukankah hal tersebut telah diikuti oleh para sahabat, tabi’in dan seterusnya hingga sekarang? Bukankah kitab-kitab dari Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah, Hanbaliyyah dan yang lain menjelaskan tentang kebolehannya? bukanlah pula kitab-kitab hadits sepakat akan kebolehannya bahkan menganjurkannya? Nah, mereka yang telah melihat, membaca dan menelaah hal tersebut ternyata masih mengingkarinya, maka sungguh kami telah terlepas dengan mereka. Laa haula wala quwwata illa billah. wallohu a’lam bisshowaab.