Kesederhanaan Santri
Cari Berita

Kesederhanaan Santri

Sabtu, 14 April 2018

Ada banyak hal yang menjadi ciri khas santri dari dahulu hingga sekarang, diantaranya : santri itu pintar ngaji kitab kuning dan Al - Qur’an atau setidaknya bisa mengaji karena memang tidak semua santri itu pintar, ada juga yang mengatakan kalau santri itu sangat menjaga sopan santun pada orang lain walaupun belum dikenalnya, tawadlu’nya kepada guru dan orang tua juga luar biasa, dan yang tak kalah mencolok dari seorang santri adalah kesederhanaannya. 

Kesemuanya itu apabila diuraikan satu persatu tentu akan sangat panjang, karena disamping penjelasannya yang luas tentunya akan muncul lagi pandangan-pandangan baru tentang santri tergantung siapa yang mengemukakan pendapat tersebut. 

Sedangkan dalam kesempatan ini saya ingin menguraikan secara khusus tentang kesederhanaan santri. 

Sederhana dalam KBBI mempunyai arti bersahaja, tidak berlebih-lebihan, hidupnya selalu sedang tidak dalam pernak-pernik, dan masih terdapat arti-arti lain yang serupa. Dari beberapa arti tersebut saya menyimpulkan bahwa sederhana berarti tidak neko-neko. 

Seorang santri yang baik – karena ada juga santri yang kurang baik – akan berusaha menjalani hidup ini dengan apa adanya atau dalam bahasa jawa disebut nerimo ing pandum, entah saat ia masih di pondok ataupun setelah khidmah di kampung halamannya. Hal ini tentunya tidak terlepas dari percontohan yang telah dilakukan oleh para masyayikh secara turun temurun dari zaman ke zaman. 

Menjalani hidup dengan sederhana berarti menjalani hidup ini dengan bersahaja, tidak berlebih-lebihan dalam segala hal dan menggunakan segala hal sesuai dengan takaran keperluannya. Kesederhanaan seperti inilah yang seharusnya selalu ditampakkan oleh setiap santri di hadapan masyarakat hedonis di zaman ini, santri harus selalu tampil berwibawa tanpa perlu mengenakan hal-hal yang bernuansa mahal dan glamor. 

Lantas dengan apa santri bisa tampil berwibawa tanpa berpakaian yang necis atau tanpa berkendaraan mentereng? Tentu dengan adab dan ilmu. Para kiai kita sudah banyak memberikan cohtoh kesederhanaan dalam berbagai hal dan kesempatan.

Tengoklah alm. KH. Abdurrahman Wahid atau yang masyhur dipanggil Gus Dur, beliau adalah sosok santri tulen yang juga Presiden ke empat Republik Indonesia dan sekaligus cucu pendiri NU, kita sering membaca atau mendengar cerita bahwa beliau selalu membawa tumpukan kardus sarimi saat melakukan kunjungan kenegaraan, dan ketika ditanyakan pada ajudannya apakah isi kardus tersebut, ajudan tersebut menjawab “itu baju milik presiden gus Dur”. 

Bayangkan, pemimpin negara dengan penduduk 200 juta jiwa lebih mengemasi pakaiannya di kardus, bukan koper besar nan mahal. Ketika di istana negara beliau juga sering tampak apa adanya, bersarung dan memakai kaos oblong. Beliau juga sering mengundang kawan-kawannya untuk datang ke istana selayaknya seorang santri mengajak kawan-kawan se kamarnya datang ke rumah. 

Namun meski sesederhana itu, hampir seluruh pemimpin dunia menaruh hormat pada beliau karena kecakapan komunikasinya dan luasnya pengetahuan beliau, ketika diajak berdiskusi tentang sejarah Islam Gus Dur mampu menanggapinya dengan baik, begitu juga ketika membicarakan masalah kesenian, fiqh, nahwu, dan lain sebagainya. 

Kesederhanaan dapat juga diartikan sebagai cara hidup yang ‘selayaknya manusia hidup’ atau dalam bahasa yang lebih mudah dapat diartikan ‘umume wong urep’. 

Ada sebuah cerita tentang KH. Ali Shodiq Umman (Pendiri PPHM Ngunut) yang mungkin belum banyak diketahui oleh para santri, diceritakan bahwa Mbah yai pernah dawuh ke Ust. Shon Haji (salah satu guru MHM asrama SGJ)- yang kurang lebih- begini, “sakjane co, aku tiap tahun Ihrom ki iso, tapi disawang ra apik” (sebenarnya co, saya itu bisa ihram setiap tahun, tapi kurang baik / etis dipandang). 

Kemudian mbah yai dawuh lagi “umpomo 2 tahun pisan piye co? Panggah ndak apik yo. Pomo 5 tahun pisan piye co?” (seumpama 2 tahun sekali bagaimana co? Tetap kurang baik ya. Umpama 5 tahun sekali bagaimana?). Saat itu Ust. Shon haji hanya bisa diam tanpa memberikan jawaban apapun. Perlu kita ketahui bahwa seumur hidup KH. Ali Shodiq Umman hanya ihrom dua kali. 

Dari sedikit cerita tentang Hadlrotus Syaikh tersebut semoga kita bisa mengambil pelajaran bahwa melakukan segala hal dalam hidup ini selayaknya dan seperlunya saja, jangan berlebihan meskipun sebenarnya kita mampu untuk lebih, apalagi kita adalah santri.

Biarlah kita berpakaian lusuh – karena tak pernah tersentuh hangatnya strika – asal itu suci dan bukan pakaian milik orang lain, biarlah sarung kita ngepir asalkan bisa menutup aurat kita, biarlah kopyah kita ‘merah membara´ asalkan itu bisa menambah harga diri kita, semua itu hanyalah penampilan luar belaka. 

Lebih penting lagi dari sekedar penampilan yang sederhana adalah berfikir yang sederhana, jangan muluk-muluk, orang yang berlebih-lebihan tak akan pernah bisa adil dalam keputusannya. Karena ia sudah tidak adil sejak dari cara berfikirnya. 

Akhirnya, sebagai penutup tulisan ini. Izinkan saya berbagi dawuh dari KH. Abdul Karim Lirboyo, yang kurang lebih begini “Santri Kudu Wani Mlarat” (santri harus berani hidup miskin). Berani hidup miskin bukan berarti harus hidup miskin, KH. Mahrus Aly wani mlarat tapi beliau juga memiliki beberapa mobil. Berani hidup miskin artinya siap menerima keadaan yang sudah ditetapkan oleh Allah terkait bagian rizki kita dengan perasaan lapang dada, dan selalu khusnudzon bahwa Allah maha adil. 

Banyak alumni pondok Ngunut yang menjadi kiai di kampung halamannya namun beliau hidup dalam taraf menengah kebawah, meski begitu beliau tetap kawong (ditokohkan) dan dihormati oleh masyarakat luas. Kenapa? Karena beliau hidup dengan bersahaja, sehingga beliau terhormat bukan karena materi dunia yang dimiliki melainkan karena cara hidupnya, karena adabnya dan juga karena ilmunya.

Semoga Allah senantiasa memberikan rahmatNya kepada kita sehingga bisa meniru Akhlak mulia dan cara pandang hidup para Masyayikh tersebut. Amiin Amin,,



Oleh: Ust. Miftakhul Minan
Pembina Jam'iyyah Santri
PPHM Asrama Putra Sunan Gunung Jati Ngunut