SENI DAN SENIMAN
Cari Berita

SENI DAN SENIMAN

Kamis, 05 April 2018

przedszkole-montessori.com.pl
Alon-alon sing penting kelakon, itulah petuah lama orang tua jawa. Untuk kondisi seperti saat ini, aku sudah merasa cukup kesulitan mengamalkan petuah bijak itu. Bagaimana tidak? sekarang sudah pukul 09:52 WIB, artinya lima menit setengah kemudian, ketika jarum panjang telah memukul angka 12, aku sebagai mahasiswa harus sudah berada di depan puntu gerbang stasiun Ngunut, untuk kemudian melangkah maju ke pintu gerbong kereta. Akhirnya aku berhasil tidak terlambat. Sebelum naik ke gerbong kereta, masih sempat kubenahi dasi dan merapikan appierence, let’s go! 

Yah, kerena sedikit kesembronoan, dalam perjalanan nan panjang itu aku harus bersusah payah mencoba ramah kepada dia, mengapa bersikap ramah saja menjadi demikian rumit? Coba tanyakan pada “sembrono” tadi! Ah, dia. Wajahnya ramah, tuturnya sopan, sikap santun, dengan gestur yang anggun, sorot matanya tegas dan cerdas namun menyimpan kelembutan nan bersahabat, natural tanpa make up, tipikal orang cantik yang tidak mau repot-repot menjadi cantik. Kurasa, memang sudah lebih dari cukup memenuhi kriteria pemenang apabila si dia ikut audisi muslimah awards, atau semacamnya! Barangkali inilah yang disebut inner beauty oleh para juri kontes kecantikan di tipi-tipi itu.

Ketika barang bawaannya terjatuh, oh, lebih tepatnya kujatuhkan dan berserakan di lantai kereta, sekonyong-konyong semua orang di sekeliling kami telah berada dalam mode slow motion. Sepertinya ada yang terjatuh juga dari dalam saku kemejaku, aku tak peduli. Dan, aneh, telingaku tak mendengar suara apa pun yang keluar dari mulut-mulut mereka yang bergerak-gerak macam ikan kehabisan napas. Semua berlalu dengan rumit dan sulit dijelaskan. Yang kutahu, sekarang aku telah duduk sebangku dengan dia. Ternyata dia seorang pembohong yang cukup lihai, kutanyakan bagaimana keadaan dua buku dan mapnya yang jatuh tadi,

“Ndak apa-apa kok, mas! Bukunya baik-baik saja. Masnya sendiri bagaimana?” Padahal jelas aku tahu bahwa sampul belakang salah satu buku tebalnya itu telah robek karena terinjak-injak.

“Saya, oh, saya juga ndak apa-apa! Lha, mapnya?”

“Aman!” Sambil nyengir dan berusaha menyembunyikan map hijau yang mengenaskan itu. Pada map itu tertulis sebuah nama, mungkin! Sekilas, di balik kacamata cekung hanya mampu kulihat tulisan “N.J.”, belum sempat aku tuntas membacanya....

Kereta berhenti di setasiun Sragen, dia harus memohon diri karena tujuannya memang ke kota itu. sebelumnya kami tidak banyak bicara di sepanjang perjalanan, obrolan ringan pun sangat jarang. Sungguh, ingin segera aku tahu tentang nama, alamat, sekolah, atau mungkin kuliah, tapi....

Menyesal selalu datang belakangan!

***

Aku sudah sampai di kampus. Kususuri koridor dan langsung menuju ruang sidang tesisku. Tinggal menunggu giliran untuk presentasi hasil jerih payah selama empat tahun itu. Aku sudah siap bertempur memperjuangkan materi, menjawab kelemahan-kelemahan pada kesimpulan tesis, dan setidaknya sudah berusaha maksimal mendekati sempurna. Namaku dipanggil, dan aku lulus cum laude. Aha, terlalu cepat kah? Sesi foto selesai dan aku harus segera memesan tiket kereta dan pulang ke Tulungagung dengan paman. Oh iya, dimanakah ayah ibuku? 

Baiklah, aku mengaku salah karena satu bulan lalu tidak mau pulang ketika aku dibingungkan harus memilih antara pesantren, universitas, politik, atau industri?! Mereka, terutama ayah dan paman memang berbeda pendapat tentang masa depanku. Ayah, menyarankan agar aku mondok saja setelah lulus kuliah. Menurut ayah, ilmu agama anaknya ini masih terlalu awam sehingga berpotensi dan rentan terciduk godaan setan-setan yang terkutuk. Dan paman, sebagai donatur utama biaya kuliahku, tetap ingin aku menjadi pejabat bersepatu mengkilat, berjas, bawa koper dan pulpen. Menurut paman: pejabat itu pasti abdi negara, abdi negara itu pasti berkorban untuk rakyat, rakyat itu orang banyak, berkorban untuk orang banyak itu mulia. Tapi aku pun tahu, beliau pasti belum mengenal istilah STUDI BANDING di negeri yang hampir berusia satu abad ini! 

Tidak, aku tidak tahu bagaimana pendapat ibu tentang masa depanku setelah lulus kuliah, karena beliau sudah meninggal! Dan ayah, tak tampak ketika aku diwisuda.

Ah, aku masih saja berharap Ayah bisa terhibur berkat keberhsilan putranya ini. Beliau adalah lelaki sepuh sederhana penjual buku dan mainan tradisional di sekitar taman kota. Kata adik kawan sesama madrasahku, ayah sangat populer di kalangan anak-anak karena beliau pribadi yang jenaka. Sering berdongeng pula ketika mengajar anak-anak mengaji di rumah, sehingga suasana menjadi menyenangkan. 

Senja turun dengan tenang, dingin, dan syadu. Aku hampir tiba di kota kelahiranku. Kereta merayap pelan melintasi hamparan sawah, padi-padi berbaris dan menari-nari membentuk koreografi nan indah mempesona ciptaan Ilahi, cuit burung-burung gereja bersahutan degan kicau pipit kaji, seakan mereka sedang menjawab seruan untuk menuju kemenangan, kemenangan yang satu. Kemenangan yang mana? aku tak tahu. Terbang bersama, naik, meliuk-liuk, dan menukik, berpencar, tapi kembali menjadi satu kawanan lagi. Ah, bukankah ini toleransi dalam ukhuwah thoiriyah, atau mungkin ukhuwah hayawaniyah?

“Assalamu’alaikum..!” Tak ada balasan dari dalam sana. Kutengok arloji, mungkin sebentar lagi ayah pulang.

Aku sudah menunggu sejak pukul enam sore, dan sekarang jarum pendek sudah mulai minggat dari angka lima. Cepat nian waktu berlalu, sehingga si jarum panjang juga mulai berani menyentuh angka duabelas, jam delapan malam tepat! Pintu dikunci, dan aku tidak berhasil menemukan kuncinya.

Tak ambil tempo, kuambil sepeda dan langsung melesat ke taman kota. Kusapu pandang seluruh sudut-sudut taman, termasuk tempat favorit para muda-mudi biasa berasyik masyuk memadu kasih. Mustahil ayah ke mal-mal karena ke pasar saja dana kami megap-megap. Stadion, balai kota, pegadaian, pos ronda, kantor pos, warung-warung kopi pinggir sungai, hingga perpustakaan kota: nihil. Tak mungkin ayah ke kafe apalagi diskotik, beliau bukan pria dugem. Aku gemetar, mulai kesulitan menguasai diri. Hampir semua tempat yang biasa beliau kunjungi telah kugeledah. Harapan terakhir adalah taman makam pahlawan. Ketika aku masih kecil, ayah memang sering mengajakku berziarah kesana, tapi bukan malam hari! Aku tak yakin, karena sekarang sudah pukul sembilan malam.

Aku terpana melihat ayah duduk tafakur dengan khusyuk di surau kecil taman makam pahlawan itu. 

“Assalamu’alaikum, bapak!” Beliau menoleh, dan aku tidak karena aku di belakang ayah.

“Wa’alaikumussalam, kapan kamu sampai?” Aku juga tak habis pikir bagaimana ayah sampai tidak ambil pusing soal kedatanganku dari Jogja.

“Baru saja dari setasiun, bapak! Ayo, pak. Kita pulang, sudah malam dan nanti pasti udara semakin dingin!” Aku semakin prihatin dengan kondisi ayah. tapi dari raut wajah beliau, ayah sendiri terlihat lebih memprihatinkan sesuatu.

“Atau, kita ngopi saja dulu, pak?” Aku duduk di sampig beliau dan mulai berkisah tentang keberhasilanku lulus cum laude itu, dosen yang killer, kucing-kucing kost yang hilang, tentang aku harus sedikit makan ayam karena harganya mahal, kawan sekamar kos yang putus cinta, tapi aku tidak! Kutunggu satu menit, dua menit, tiga menit, banyak menit, sampai tidak tahu berapa menit waktu berlalu, belum ada respon.

“Tenang saja, nak! Bapak sudah bicara dengan Bung Karno, Bung Hatta, Pak Dirman, sekalian Mbah Kiyai Hasyim. Beliau-beliau tadi berkata: Tidak bisakah kepala kaleng mereka itu berfikir, bahwa negara kita ini didirikan dengan pengorbanan yang besar? Mereka yang seharusnya mengurus itu, memang pantas kau urus! Apakah perut serakah mereka belum pernah tertancap bambu runcing!” Saat mengucapkan kata MEREKA, tangan ayah menunjuk-nunjuk koran. Parau suara ayah beriringan dengan embusan angin malam nan dingin, mendesir, sunyi, senyap, wangi bunga sedap malam, dan kenanga. Ah, terasa mencekam. 

Di depan pusara para pahlawan itu aku bersaksi bahwa ayahku telah memproklamirkan persepsinya tentang manusia berdasi, berjas, pembawa koper amanat rakyat, dan pemegang pulpen aspirasi masyarakat. Ah, hampir lupa, mobilnya juga milik rakyat!

“Ya, tapi kan ndak semua abdi negara seperti yang bapak bicarakan, toh?”

“Sehatkah telingamu itu, nak? Aku tadi juga ndak bilang semua abdi negara bermental nista! Sekarang tugas kamu memperbaiki kualitas negara kita! Terserah mau jadi apa, mau kemana setelah lulus kuliah, itu urusanmu! Pokoknya kowe harus jadi orang baik, orang yang bener dan pinter. Jangan jadi orang yang....” Tiba-tiba ayah berhenti berkhotbah.

“Ha! Ini, ini, baca ini!”.

Kuterima beberapa lembar koran lusuh itu. Sebelumnya aku juga sempat berfikir tapi tak menemukan penjelasan apapun tentang, bagaimana sebuah koran lokal bisa sampai memuat berita aktual berskala nasional dengan bahasa yang menurutku sangat emosional dan sensasional? Kubaca judul beritanya, “Berusaha Lolos, Buronan Nekat Tabrakkan Diri ke Tiang Listrik”. 

Ah, entahlah!?

***

Dua tahun berlalu. Waktu melesat cepat bak anak peluru. Hari itu, pagi-pagi aku riang gembira mengayuh sepeda membonceng ayah. Kami, lebih tepatnya aku, hendak bertamasya ke taman kota. Sampai disana ayah langsung sibuk dengan buku-buku dan mainan tradisional, setelah itu duduk bersamaku. Anak-anak langsung merubung beliau, kulihat si gendut terpontal-pontal paling belakang, kalah cepat dengan teman-temannya. Dialah Abil, adik Oceng kawanku sesama madrasah dulu.

“Mas, kok..... wes.... teko... kene? Sampeyan.... rene.... karo sopo?”, dia memaksa bicara tapi lolipop di tangan kanannya itu terus menggoda lidahnya. Dan tangan kirinya menggenggam erat gadget terbaru.

“lha iku, sama bapakku! Oh, iya. Masmu dimana?”

“Itu!”, sambil menunjuk sepasang muda-mudi, yang ditunjuk melambaikan tangan ke arahku dengan melempar senyum yang kukenal.

Aku lekas menghampiri mereka, tapi tak jadi mereka karena si cewek itu malah pergi sebelum aku sampai. Aku juga kurang faham siapa sebenarnya si cewek itu, karena aku berkacamata cekung. Tinggallah sendiri Si Oceng. Kuamati dari pucuk rambut hingga ujung tungkainya, rambut mow hawk-nya yang kalis mengilap macam lantai keramik hitam yang habis dipel, jenggotnya seperti jimat berkekuatan mistik yang mungkin bila dicukur bisa mengundang bala bencana, sepatu Van’s hijau, kemeja motif kotak-kotak merah cerah, celana jean’s, kacamata yang aku tak faham merknya, dan senyum tengiknya yang dari dulu tidak ada kemajuan. Oh iya satu lagi, arloji Q&Q kodian karena ternyata bukan Q&Q, tapi O&O! Hanya satu kata yang mampu mewakili penampilannya: semarak!

“Jaman sudah berubah, Said!”

“Iya, tapi semua itu kan harus di bawah kendali?! Dengan alat kotak itu, informasi begitu cepat menyebar sebelum masyarakat mengerti salah atau benarnya kabar! Kebanyakan mereka langsung saja percaya tanpa ambil pusing! Ndak kasihan sampeyan sama Abil..!?”

“Aha, apakah aku perlu melihat ijazah kuliahmu? Asli ataukah palsu? Berani bicara masyarakat, orang seperti sampeyan ini hanya merepotkan pemerintah! Lha wong sudah dua tahun lulus kuliah kok masih makan beras orang tua! Dunia dan agama harus sama, Said! kowe dewe ngopo ndak lekas pergi saja ke pesantren kiyai-kiyai kafir itu? Malah ngoceh disini soal....”

“Soal gamis-gamis dan tausyiah sucimu di Jogja hingga Sragen itu, apakah tidak bisa menjadi pertimbangan?!” Tandasku mulai terpancing. Aku menatapnya tajam.

“Semoga saja!”

***

“Sebagai individu yang merdeka, kita bebas beragama. Adakah dari kalian yang merasa bahwa agama kalian adalah yang paling benar? Semua agama adalah benar!”

Yah, tak keterlaluan bila kukatakan pidato itu tak ubahnya bualan angin, kosong ndak berampas sama sekali! Oceng berhasil menutup mata umat tentang keadaan bangsa yang sebenarnya, dan menyeret mereka menjadi agen pemecah belah kesatuan dan persatuan bangsa. Di luar kota dia berkamuflase menjadi Ustadz Hamid Ali, menjadikan kota Sragen sebagai basis dakwah, bersama seorang tipis ilmu agama nan pandai bicara sebagai imam besar perkumpulan islam baru itu. Anggota perkumpulannya bukan main! Ada petani, juragan gabah, juragan sapi, atlet futsall, tukang sound system, peternak, Pe-En-Es, mahasiswa, mahasiswa drop out, mantri, guru, pengangguran, tukang becak, tukang las, tukang tambal dandang bocor, hingga dosen dan dokter. Jangan kaget, dia sendiri yang berkisah padaku, membangga-banggakan perkumpulan tengik itu sampai berbusa-busa mulutnya. Ketika kutanya tentang program-program dan sejenisnya, dia diam saja.

Semoga saja para dosen nan cerdas jenius itu tidak menyesal setelah aku mendapat SK definitif dosen di UGM. Menulis dan menikmati seni adalah profesi sekaligus hobi yang aku merasa tidak akan mudah pensiun dari mereka. Aku mencintai dua hal tersebut. Kekuatan cinta sungguh luar biasa, cinta mampu membawa pelakunya menuju segala tempat dalam rangka mencari hakikat, hakikat cinta itu sendiri! tapi, aku tidak ingin tersesat dan melompat dari ajaran lurus syari’at Nabi Muhammad SAW. 

“Dengan iman dan taqwa hidup menjadi terarah, dengan ilmu hidup menjadi mudah, dengan seni hidup menjadi indah... islam itu agama yang indah, kang! Cintailah islam, karena sampeyan juga mencintai seni..! tapi seni sangat beragam; ada seni musik, seni rupa, seni sastra, seni sandiwara dan segala rupa yang lainnya”

“Apakah hidup ini bisa tetap indah apabila mereka, para seni-seni itu saling merasa paling benar dan gemar menyalah-nyalahkan yang lain? Si Sandiwara akan menghapus segala fakta, Sang Sastra akan berkhianat pada realita, Musik dan Rupa menghapus kedigdayaan mata dan telinga kita, mereka minggat membawa kabur indahnya dunia!”. 

Beliau adalah kiyai Syarifudin Alwi, ulama’ yang berseni, seniman yang alim, dan aku adalah santri beliau.

“Inggih, estu leres, kiyai! Dalem badhe setyo nderek dhawuh kiyai..!”

“Oh, iya kang. Aku dengar kabar kalau di Sragen akan ada pameran tunggal. Menowo sampeyan berminat, kelak berdakwahlah di daerah itu!”

(dakwah? Aku tak faham maksud kiyai!)

“Tentu, kiyai! Matur nuwun, kiyai..!”

“Sama-sama..!”, beliau tidak memberi tahu siapa geranga seniman dari Sragen tersebut.

Bagaimana kiyai bisa mendapat kabar itu? aku tak tahu! Tapi, sebagai ketua cabang organisasi islam ahlussunnah wal jama’ah memungkinkan beliau menerima informasi dengan jaringan yang luas.

Esoknya aku langsung berangkat ke Sragen untuk menghadiri pameran karya tunggal tersebut. Buah karya seniman dalam kanfas berpigora indah berderet-deret. Aku memang sudah sering menghadiri acara semacam itu, tapi di salah satu sisi pada setiap lukisan-lukisan pasti ada tulisan tangan dan sepertinya, aku mengenal tulisan tangan itu. Setelah kuamati satu persatu karya, aku terperenyak di depan lukisan garfiti. Ah, bukan! Sepertinya huruf arab, kaligrafi, indah nian hingga tak sampai kata aku mengungkapkannya, dengan bingkai paling besar di ujung ruangan pameran. Aku tahu mataku memang kurang sehat, tapi lukisan itu sangat jelas berjudul: “SENI DAN SENIMAN”. 

Bukankah itu lukisan kaligrafi namaku? “Said Eko Nasih Isnadi” dengan tulisan tangan nama sang seniman yang melahirkan karya, di bawahnya: Windi Ratna N.J. 

Sekarang aku baru sadar, ternyata waktu itu emblem namaku yang terjatuh di kereta, dialah yang menemukannya. Seniman itu! Mengembalikannya padaku. Persis di depan lukisan indah itu. 

Aku mau pingsan!


Oleh: Nashrul Hanif Al Hakim, 
Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-Ien Ngunut, Tulungagung.